Tingkatan Ibadah

Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah mengungkapkan tingkatan ibadah :
Ada hamba yang beribadah kepada Allah karena mengharapkan imbalan. Itu ibadahnya kaum pedagang. Ada hamba Allah yang beribadah kepada Allah karena takut mendapat siksa, itu ibadahnya budak. Dan ada sekelompok orang yang beribadah karena kecintaannya kepada Allah SWT., itulah ibadah yang sejati.

Mengapa ada tingkatan ibadah? Apakah tingkatan ibadah itu dibedakan berdasar apa yang dilakukannya? Atau adakah hal atau perlakuan khusus atau semedi yang dilakukan oleh seseorang sehingga tingkatan ibadahnya berbeda satu sama lain? Jawabannya Tidak. Semua ibadah itutelah disampaikan oleh Baginda rasulullah SAW.

Ibadah Sholat misalnya. Seseorang yang melakukannya hanya karena tradisi atau rutinitas maka ibadahnya bisa dikatan ibadah pegawai, kalau yang suka menghitung-hitung pahala dan hanya pahala tujuannya maka dia adalah ibadah para pedagang. Begitupun, bagi mereka yang hanya mengharap surga dantakut akan neraka akan masuk dalam kategori ibadahnya budak. Pertanyaannya adalah apakah ibadah yang saya sebutkan diatas itu adalah ibadah yang salah? Jawabannya bukan saya yang menentukn nilai salah atau benar tapi Allah-lah yang akan menghisabnya kelak di akhirat. Hanya saja, kenikmatan dalam beribadah, setiap orang berhak merasakannya, bukan hanya terkhusus kepada sebuah kelompok saja. Nah bagaimana caranya menikmati ibadah itu?

Puncak hubungan antara manusia dan Tuhan itu harus ditandai dengan kecintaan kepada Allah. Konsep cinta adalah konsep Al Quran.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”(Qs.Al-Baqarah:165)

Begitu jelas bahwa pemaknaan cinta adalah begitu tinggi di mata Allah SWT. Maka dari itu dasar Cinta adalah pondasi utama dalam beribadah agar kita mampu merasakan nikmatnya beribadah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s