Jadilah Manusia Sejati

Terkadang kita selalu berpikir bahwa manusia paling sempurna di dunia adalah mereka yang disebut Nabi yang dalam kelakukannya tanpa cacat dari noda dan dosa. Padahal, kita sebagai manusia diciptakan untuk memproduksi kesempurnaan dan kesejatian itu. Kesempurnaan itu bukanlah permberian tetapi harus dicari. Bagi mereka yang yang telah memperolehnya dari Sang Maha Sempurna maka dialah yang beruntung dengan tanpa banyak bertanya dan mengeluh tetapi senantiasa menapakkan kakinya dengan kerendahan hatinya. Siapa pun bisa melakukan hal demikian.

Ujian setiap tingkatan itu berbeda-beda. Jika kita mampu melewati satu tingkatan maka bersiap-siaplah untuk menaiki tantangan berikutnya. Itulah jalan bagi mereka yang mengejar status sejatinya manusia. Namun, sebagian dari kita sudah menganggap bahwa hal ini sudah tidak ada lagi di dunia ini. yang ada hanya materi semata dimana manusia akan kehausan jika takkan mampu menghasilkan sesuatu yang seorang anak kecilpun dapat memperolehnya di pinggir jalan.

Sebuah kisah berikut menggambarkan sebuah jalan manusia menggapai rasa sejati itu di dadanya.

Suatu hari seorang tua yang kikir pergi menjeguk Fazl-Rabbi, untuk membahas beberapa hal. Karena lemah dan gelisah, orang tua ini menusukkan tongkat besinya ke luka di kaki Fazl-Rabbi. Mendengar dengan sopan, apa pun yang dikatakan oleh si orang tua, Fazl-Rabbi tidak berkata-kata, kendati ia menjadi pucat dan kemudian memerah, karena lukanya terasa sakit dan besi tersebut tetap menancap di kakinya. Kemudian, ketika yang lainnya telah menyelesaikan urusannya, ia mengambil selembar kertas darinya dan menandatanganinya. Ketika orang tua itu sudah pergi, ia senang karena berhasil dalam ketekunannya, Fazl-Rabbi membiarkan dirinya roboh. Salah seorang bangsawan yang hadir mengatakan: “Tuanku, Anda duduk di sana dengan darah mengucur dari kaki Anda, dan orang tua itu menusuknya dengan tongkat besinya, dan Anda sama sekali tidak berkata apa pun.” Fazl-Rabbi menjawab: “Aku sama sekali tidak memberi tanda kesakitan, karena Aku takut kalau ketakutannya mungkin menyebabkan ia bingung, dan bahwa ia mungkin menyerahkan ketekunannya karena bantuanku. Kasihan sekali dia, bagaimana aku dapat menambah masalahnya dengan cara demikian?” Jadilah manusia sejati: mempelajari kebangsawanan dari pemikiran dan tindakan, seperti Fazl-Rabbi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s