Epistemologi Islam : Surah Alfatiha

Sangat mendasarnya isi Surat Al-Fatiha dalam ajaran agama Islam terlihat misalnya dengan pemberian nama lain surat ini oleh Nabi Muhammad SAW sendiri yaitu Ummul Kitab (Ibu/Sumber Kitab), sedangkan arti dari “Al-Fatiha” sendiri adalah “The Opening”. Surat ini memberitahukan kepada pembaca agar mengidentifikasi dirinya bukan sebagai “aku,” akan tetapi sebagai “kami”.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa surat ini wajib dibaca setiap mengerjakan shalat yang wajib ditegakkan. Apakah seorang penganut agama Islam sedang melaksanakan shalat secara sendiri-sendiri ataupun berjamaah, tetap saja pada keduanya identifikasi diri itu adalah “kami” bukan “aku.”

Surat Al-Fatihah, 5-7:

”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Hukum paling utama, yang sering disebut sebagai The Golden Rule pada Injil (Markus 12: 28-31) juga menjelaskan mengenai kesatuan umat manusia:

”Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepadanya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?

Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Benturan-benturan yang berawal dari keterpisah-pisahan yang disebutkan di atas adalah manifestasi dari ilmu-ilmu (baik ilmu agama maupun ilmu non-agama) yang diformulasikan berdasar hasil pengamatan manusia — disadari atau tidak — dimana si pengamat berasumsi bahwa ia adalah makhluk yang independent, tidak ada keterikatan dengan makhluk lainnya. Inti permasalahan dari perkembangan ilmu-ilmu yang didasari oleh epistemologi-epistemologi seperti ini adalah:

““Reality” is what we take to be true. What we take to be true is what we believe. What we believe is based upon our perceptions. What we perceive depends upon what we look for. What we look for depends upon what we think. What we think depends upon what we perceive. What we perceive determines what we believe. What we believe determines what we take to be true. What we take to be true is our reality.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s