Ketika Islam tinggal Nama

Ketika Islam tinggal namanya maka segala ibadah yang dilakukan hanyalah tinggal rutinititas belaka.

Dari Ali b. Abi Thalib r.a. berkata: “Telah bersabda Rasulullah SAW (Riwayat Al Baihaqi):

Sudah hampir sampai suatu masa dimana tidak tinggal lagi daripada Islam itu kecuali hanya namanya dan tidak tinggal daripada Al-Quran itu kecuali hanya tulisannya.”

(HR. Muslim dari Abi Hurairah) :

Permulaan Islam ini asing, dan akan kembali asing pula, maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing.”

Apakah kita akan menanti masa itu terjadi? Tentu tidak. Kita haruslah bersyukur karena nikmat Islam dan nikmat Al Quran masih berada pada posisiya dengan benar. Kita telah menyia-nyiakannya selama ini, maka dari itu, mari kita telusuri lagi dimana dan bagaimana hidup Islam yang telah diatur dlam Al Quran.

Kapan masa itu datang? yaitu pasa saat kesalahan fatal kita sebagai manusia dan umat Islam telah melalaikan hal pokok dalam Islam itu sendiri sedangkan Sholat, Puasa dan ibadah lainnya tetap dilaksanakan. Kesalahan apa itu?

Salah satu kesalahan pokok ialah: biasanya kaum muslimin dewasa ini, selalu menganggap dirinya telah memenuhi syarat taqwa dalam beragama, tanpa dicarinya cara untuk menguji-coba akan ketaqwaannya itu, mereka selalu saja lekas berpuas diri. Lihat kaum muslimin di Palestina! Bukan mereka tidak shalat, bukan tidak berpuasa, bukan tidak mengeluarkan zakat, bukan tidak naik haji, bukan tidak menyebut Dua Kalimah Syahadat sebagai pokok utama daripada Al Islam, mereka bukan tidak beriman, bukan tidak Islam. Namun, mereka sebenarnya tetap saja belum taqwa, walaupun mereka mengaku telah bertaqwa karena katanya telah melaksanakan segala suruh dan telah menghentikan segala cegah; tetapi mereka melupakan salah satu syarat pokok yang Maha Penting dari semua ibadat, dari semua Rukun Islam, dari semua Rukun Iman, yaitu bahwa semua ibadat harus dilaksanakan atas dasar hati yang benar-benar suci, khalis mukhlisin. Dan ini hanya dapat terwujud, jika seluruh unsur fatal, seluruh gelombang setan, seluruh pengaruh angkara murka, hawa nafsu, dunia syaitan, telah hilang lenyap sama sekali dari hati sanubari mereka! Bagaimana mungkin mereka melaksanakan hal ini sedangkan as-syaitan itu tetap masih bercokol dan mendekam di dalam hati sanubari mereka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s