Hati dan Ibadah

Tahukah sahabat, dengan apa Anda beribadah? Masihkah kita beribadah secara sendiri? Siapa yang menemani Anda beribadah? dan dimana pusat Anda beribadah?

Hati sanubari adalah pokok pangkal dan tumpuan segala ibadat kita. Rasulullah SAW bersabda:

Di dalam Bani Adam itu ada segumpal darah, kalau ini suci, sucilah semua amalannya, kalau ini kotor, maka kotorlah semua amalannya.”

Jadi hati sanubari benar-benar harus disucikan secara sempurna lebih dahulu, syaitan benar-benar harus dikeluarkan lebih dahulu secara realitas baru segala pengaruhnya yaitu gelombang-gelombang angkara murka, hawa nafsu dan lain-lain, secara tuntas dan total dapat dihapuskan!

Bagaimana mungkin syaitan akan mampu dikeluarkan? As-syaitan itu sangat dahsyatnya, sangat tinggi dimensinya, sangat halus, umurnya telah berabad-abad lamanya, ilmunya sangat tinggi sekali. Ia adalah mantan malaikat utama zaman dahulu. Dapatkah ia diusir begitu saja dengan ucapan “Auzubillah himinash shaitaanirrajim”, berasal dari “produksi” kita sendiri.

Kita yang masih bergelimang dosa, kita yang masih serba berkekurangan, sedangkan Kalimah Allah yang kita ucapkan-pun belum tentu mampu mencapai sisi Allah, karena gelombangnya tidak mudah mencapai gelombang pada sisi Allah SWT! Sedangkan iblis itu bukan main tinggi dimensi ilmiahnya! Adam dan Hawa bukan ditipu di pasar malam, tetapi di surga! Lawan yang mampu naik ke surga untuk menipu, begitulah bukan main dahsyatnya lawan kita itu, sangat hebatnya dan sangat halusnya! Mana mungkin kita akan mampu mengusirnya hanya dengan ucapan kalimat “Auzubillah himinash shaitaanirrajim” produksi kita sendiri secara “biasa-biasa” saja! Jauh panggang dari api!

Kalau syaitan masih bercokol di dalam hati sanubari kita, makhluk yang sangat tinggi dimensinya, dengan kelicikan dan kehalusan tipu dayanya, maka segala ibadat kita yang masih disertai as-syaitan jelas akan tertolak, tidak akan sampai di sisi Allah SWT. Segala apa sajapun yang kita amalkan, shalat kita, zakat kita, puasa kita, haji kita, doa-doa yang kita panjatkan dengan cucuran air mata darah sekalipun, tidak akan sampai. Dan kalau tidak sampai, tentu saja tidak akan pula dibalas. Seperti kacang yang ditanamkan tidak menyentuh bumi yang subur, tetapi hanya sampai di lapisan pasir saja, walaupun ditaburkan 1001 biji setiap hari, tidak akan tumbuh, dia akan hilang lenyap tidak sampai kepada tujuannya. Pekerjaan kita tidak akan membuahkan hasil, tidak akan berpotensi sama sekali.

Di sinilah letaknya kesalahan pokok yang mendatangkan bencana bagi kita di dunia selama ini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s