Cahaya dan Polusinya

kamu dan cahayamu

Jika selama ini kita mengenal polusi udara, air, atau tanah, maka polusi yang satu ini mestinya juga jangan kita anggap remeh. Polusi ini berkaitan dengan penggunaan cahaya (cahaya artifisial/buatan, seperti lampu) yang tidak efisien yang berdampak buruk bagi kesehatan manusia dan juga makhluk hidup lainnya (1).

Tubuh manusia memiliki jam biologis yang disebut “circadian clock” yang mengatur produksi hormon, regulasi sel, kerja otak, dan aktivitas biologis lainnya. Pada tingkat gen, jam tersebut mempengaruhi kerja 10-15 % gen yang kita miliki. Tidak heran jika jam tersebut terganggu maka akan muncul masalah masalah kesehatan seperti depresi, insomnia, obesitas (3), penyakit jantung dan pembuluh darah, bahkan kanker (1).

Salah satu hipotesis yang mencoba menerangkan hal tersebut berkaitan dengan pengaturan hormon melatonin. Pada saat waktu tidur di malam hari, melatonin diproduksi. Produksi melatonin akan menurunkan produksi estrogen. Kita tahu bahwa ekspresi estrogen yang berlebihan merupakan salah satu penyebab kanker payudara. Adanya cahaya dapat menyebabkan produksi melatonin menurun sehingga ekspresi estrogen dapat meningkat (1,4).

Penelitian tentang hubungan polusi cahaya dan kanker sudah banyak dilakukan, mayoritas dalam bentuk penelitian epidemiologi. Salah satunya adalah penelitian perawat yang mengalami shift pagi dan malam diketahui memiliki resiko terkena kanker payudara lebih tinggi dibanding yang hanya bekerja pada siang hari saja (4). Yang menarik, irama sirkadian dapat menyesuaikan dengan aktifitas hidup sehari hari, sehingga dimungkinkan pekerja dengan jadwal tetap (siang hari atau malam hari saja) mempunyai resiko yang lebih rendah terkena kanker payudara (1).

Terhadap flora dan fauna, polusi cahaya berpengaruh dengan merubah perilaku (behavior) mereka. Pada pohon tertentu, adanya paparan cahaya artificial dapat menghambat penyesuaian pohon tersebut terhadap variasi musim. Ini juga akan berimplikasi pada keseimbangan hidup ekosistem di sekitarnya yang bergantung pada pohon tersebut. Contoh lain adalah perubahan perilaku reproduksi katak yang terpengaruh adanya cahaya. Pada beberapa spesies penyu, adanya cahaya artifisial di pantai membuat betina enggan mengerami telur-telurnya. Anak-anak penyu juga akan terganggu arah perjalanannya dengan adanya cahaya artificial di pantai sehingga mereka tidak dapat menuju ke laut. Adanya cahaya juga membuat burung-burung terbang kehilangan arah (1).

Lalu, apa yang bisa kita lakukan ? tidak mungkin meniadakan lampu untuk memecahkan masalah ini. Yang bisa kita lakukan adalah menggunakan lampu dengan bijak. Gambar di samping (referensi 1) secara skematik menjelaskan distribusi cahaya, di mana dengan model lampu tersebut 50 % cahaya akan terbuang percuma, 10 % menghasilkan glare, dan hanya 40 % cahaya yang memang benar-benar dibutuhkan (productive light). Pencahayaan yang baik adalah dengan mendesain sedemikian rupa sehingga productive light yang dihasilkan semakin besar.

Referensi:

1. Ron Chepesiuk. Missing the Dark, Health Effects of Light Pollution. Environmental Health Perspectives. 2009, 117;1:A20-27, available at here

2. Angela Spivey. Lose Sleep, Gain Weight: Another Piece of the Obesity Puzzle. Environmental Health Perspectives. 2010, 118;1: A28-33, available at here

3. Laurie Barclay. Extreme Sleep Duration Linked to Increased Abdominal Fat in Minority Young Adults. Medscape CME Clinical Briefs. 2010, available at http://cme.medscape.com/viewarticle/718077_print

Sumber : http://tunggulpharmacist.wordpress.com/artikel/a/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s