Mengeluh atau perubahan

Saya pernah mengeluh kepada atasan saya tentang sifat dan karakter teman sekantor. Beberapa waktu kemudian, saya pun mengeluh atas sikap atasan saya kepada istri saya. Seiring waktu berlalu akhirnya saya juga diberi kepercayaan untuk memiliki bawahan. Barulah saya tahu bahwa sikap saya dulu itu memang tercermin pada bawahan saya sekarang dan itu menyadarkan saya bahwa mengeluh itu mengurangi manfaat kerja dan waktu.

Watak kita memang diakui sebagai watak pengeluh. Ada masalah, mengeluh, ada solusi yang tidak cocok, mengeluh. Pada hal seharusnya generasi setingkat saya sekarang harus menjadi generasi solusi. Agar negara kita ini juga memiliki kebanggaan dan dapat sederajat dengan bangsa maju. Yakin dalam hukum sebab akibat, bangsa kita akan maju jika orang di dalamnya adalah bangsa yang rakyatnya selalu membawa solusi, bukan keluhan dan bukan pula bantuan dari luar negeri.

Generasi yang seperti itu sangatlah mudah kita bentuk, semudah kita merusak generasi dengan watak suka mengeluh. Caranya, ubah sistem pendidikan menjadi sistem praktek. Seorang siswa belum bisa lulus Ujian Nasional jika belum bisa mempraktekkan apa yang dievaluasikan. Kedua, kurangi pokok bidang studi yang diterapkan. Bidang studi wajib cukup pendidikan agama, pendidikan kenegaraan dan pendidikan tingkah laku dan berbahasa yang baik dan benar. Sedangkan untuk bidang studi fisika, kimia, biologi, ekonomi, sosiologi, sejarah, dan geografi, siswa disuruh memilih. Bobot penilaiannya pun harus dikombinasikan dengan praktek. Misalnya, belajar Fisika, berarti setiap bulannya, siswa diajak study tour ke laboratorium yang dipegang oleh pemerintah. Begitu pun yang lainnya.

Di tingkat universitas, mahasiswa belum bisa meraih gelar sarjana jika belum bisa menyukseskan sebuah usaha apakah itu bisnis atau dalam hal teknologi. Maka saya yakin, mahasiswa kita akan berpikir panjang untuk menghabiskan waktu untuk yang lainnya, dan tentu saja, menjadi mahasiswa bukan lagi menjadi ajang gagah-gagahan, mau dibilang, atau sebagai sebuah mode terbaru, padahal tidak ada isinya. Di dunia kampus, kalau kita tidak berorganisasi dan mencari pengalaman dunia kerja di luar sendiri maka kita tidak akan memiliki modal skill yang cukup untuk bersaing dengan SDM luar dan tentu saja, SDM yang seperti itu hanya mengharapkan peluang kerja yang ada, dia tidak mampu malahan takut untuk membentuk peluang lapangan kerja baru. Salam perubahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s