Hidup itu untuk Belajar

Terkadang kita membuat batas-batas dalam hidup sendiri. Kita tidak boleh beginilah, hindari perbuatan inilah dan apa yang terjadi, malah semua yang kita buat aturan akhirnya itulah yang tertarik kedalam hidup kita, yaitu pelanggaran terhadap aturan itu sendiri. Mengapa demikian? karena kita tidak pernah mau belajar. Kita menganggap usia segala-galanya, ya…kalo udah tua berarti sudah hebat. Belum tentu. Usianya hanyalah bekal pertama orang untuk hidup, namun eksistensinya sebenarnya adalah, sudah berapa hal yang telah kita pelajari baik hikmahnya, hakikatnya dan makna yang terkandung didalam hidup itu.

Terlepas dari keinginan kita, sudah sejauh ,mana kita memberi makna kepada pekerjaan sehari-hari kita? Apakah proses pemaknaan dalam bekerja itu sudah kita lakukan? Jika belum, maka kita belum belajar. Bukan di bangku sekolah saja kita belajar, akan tetapi seluruh aktifitas yang kita isi dalam waktu kita, itu pun layak dikatakan belajar. Siapa jadi gurunya? Kita masing menjadi guru untuk satu sama lain.

Jangan sampai kita menunggu adzab Allah SWT baru kita mau sadar, misalnya, jangan sampai salah satu syaraf gigi kita dicabut dengan izin Allah SWT, baru kita mau belajar untuk rajin menjaga gigi tersebut.

Semua orang harus belajar antara satu dengan yang lainnya. Karena, fenomena hidup itu tidak akan berhenti pada satu sikap saja, tapi kita harus mengumpulkan berbagai solusi hidupn dari orang lain, dan itu hanya akan kita mengerti jika kita mau belajar. Assalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s